🧿 BREAKING NEWS

Segitiga Emas Ponorogo, dibangun Lewat Gotong.Royong, Kontraktual. Wujud Pembuktian Pada Masyarakat

Pembangunan Kawasan pedestrian tapal kuda atau yang disebut segitiga emas Ponorogo

Serba bergotong-royong dan membuka mata publik, inilah kenyataannya bila kita menengok kenyataan soal face-off (bedah wajah) tapal kuda pedestrian Jalan HOS Tjokroaminoto, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Oerip Soemohardjo. Perubahan wajah kota sepanjang jalan Hadji Oemar Said (HOS) pada program kerja 99 hari pertamanya dulu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko bersama Wabup Lisdyarita ternyata ingin membuktikan pada rakyat yang dipimpinnya.


Menanggapi hal tersebut, apa yang dilakukan pasangan Bupati dan wakil Bupati Ponorogo ditanggapi positif oleh Kadis DPUPKP. ‘’Berupaya mengubah mindset (pola pikir) serta peradaban tentang membangun wajah sebuah kota yang ideal,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Ponorogo Jamus Kunto Purnomo, Rabu (23/11/2022).

Kawasan pedestrian pertama murni CSR tanpa menyentuh APBD Ponorogo sebagai program 99 hari pertama Bupati dan Wabup Sugiri Sancoko-Lisdyarita

Pada kenyataannya, Kang Giri hanya mengandalkan pembiayaan yang bersumber dari corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan kendati face-off kawasan HOS menelan biaya senilai Rp 4,6 miliar. Sebuah proyek besar tanpa kontraktual karena tidak sepersenpun menyentuh dana APBD. ‘’Ternyata kita mampu melakukan pekerjaan besar dengan pola gotong royong dan sikap handarbeni (merasa memiliki),’’ jelas Jamus Kunto Purnomo mendukung gagasan Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo.


Harus dimaklumi jikalau face-off kawasan HOS Cokroaminoto belum mampu menyentuh penataan drainase berikut biopori (resapan) air hujan. Selain itu, dengan keterbatasan yang ada juga memaksa tanpa penataan kabel dengan sistem ducting (bawah tanah). 


Yang tak kalah pentingnya adalah pedestrian HOS yang kini melebar belum bebas pula dari keberadaan pedagang kaki lima (PKL). ‘’Jalur pedestrian sebenarnya khusus untuk pejalan kaki. Di kota-kota besar luar negeri, jalur pedestriannya lebih lebar dibandingkan jalan,’’ jelasnya.


Beda perkara akhirnya dengan penataan pedestrian kawasan Jensud (Jenderal Sudirman) dan JOS (Jalan Oerip Soemohardjo). APBD Ponorogo menyokong dana belasan miliar rupiah untuk untuk face-off dua kawasan pedestrian yang menapal kuda jalur protokol itu. Proyek bedah wajah pedestrian mampu menyediakan ratusan biopori, pembangunan drainase, dan penanaman kabel bawah tanah.


‘’Lengkap dengan pohon peneduh, bangku, lampu, serta jalur untuk para difabel. Jalan Jenderal Sudirman dan Oerip Soemohardjo menjadi patron (contoh) penataan pedestrian ideal seperti kota-kota besar di luar negeri,’’ Urai Jamus.(Sw/Ny)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar