Akses Perbatasan Ngrayun–Panggul Terputus, Pemerintah Pusat Siapkan Pembangunan Jembatan Baru
![]() |
| Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, , meninjau kondisi lokasi jembatan di Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Rabu (19/2/2026). Foto:Kominfo Ponorogo |
PONOROGO – Jalur penghubung antarwilayah di perbatasan Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, dan Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, masih belum dapat dilalui setelah jembatan di atas Sungai Jabak mengalami kerusakan parah akibat banjir beberapa waktu lalu. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dipastikan akan turun langsung menangani pembangunan kembali infrastruktur vital tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, , meninjau kondisi lokasi jembatan di Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Rabu (19/2/2026). Dalam kunjungannya, ia menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah merespons kebutuhan pembangunan akses penghubung tersebut.
Menurutnya, pihak Kementerian PU melalui Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur telah melakukan peninjauan lapangan guna menyiapkan perencanaan teknis pembangunan. Hasil kajian tersebut nantinya akan menentukan desain jembatan yang paling cepat direalisasikan.
Ia menjelaskan, opsi yang paling memungkinkan untuk tahap awal adalah pembangunan jembatan gantung yang dapat dilalui sepeda motor dan pejalan kaki, sehingga mobilitas warga bisa segera kembali berjalan meski belum sepenuhnya permanen.
Jembatan lama yang memiliki panjang sekitar 70 meter dan lebar hampir tiga meter itu ambruk pada 9 Januari 2026 setelah debit Sungai Jabak meningkat tajam akibat hujan deras di kawasan perbukitan Ngrayun. Kuatnya arus menyebabkan bagian tengah konstruksi runtuh dan terbawa aliran sungai.
Putusnya jembatan tersebut berdampak besar bagi warga Dusun Purworejo. Selama ini masyarakat lebih banyak beraktivitas ke wilayah Trenggalek karena jaraknya lebih dekat, terutama untuk kebutuhan sekolah, layanan kesehatan, dan perdagangan.
Warga setempat mengungkapkan bahwa jembatan tersebut memiliki nilai sejarah karena dibangun secara swadaya. Awalnya berupa jembatan bambu pada 2010, kemudian diperkuat menjadi struktur beton melalui gotong royong masyarakat sekitar pada 2014.
Sejak kerusakan terjadi, ratusan warga sempat mengalami keterisolasian. Distribusi hasil pertanian terhambat, aktivitas kerja terganggu, serta kegiatan belajar mengajar ikut terdampak. Dalam situasi tertentu, warga bahkan harus menyeberangi sungai secara manual ketika arus memungkinkan, sementara saat debit air meningkat mereka harus mengambil jalur alternatif dengan jarak memutar lebih dari 20 kilometer untuk mencapai fasilitas kesehatan.
Sebagai langkah darurat, masyarakat membangun jembatan gantung sederhana sepanjang sekitar 40 meter menggunakan tali baja, kayu jati, dan material besi bekas. Saat ini, fasilitas swadaya tersebut menjadi satu-satunya jalur penghubung antara Dusun Purworejo dan Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul.
Setiap harinya puluhan warga memanfaatkan jembatan darurat itu untuk beraktivitas, dengan jumlah penyeberang yang dapat meningkat hingga sekitar seratus orang pada waktu tertentu.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo berharap pembangunan jembatan baru dapat segera dimulai agar aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat kembali normal serta keamanan pengguna jalan lebih terjamin.
