🧿 BREAKING NEWS

Harga Kebutuhan Naik, UPPKA Jadi Peluang Penguatan Ekonomi Keluarga di Ponorogo

Yayasan Batu Hijau bergerak di bidang sosial, pemberdayaan, kolaborasi, serta kampanye kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan bersama kelompok UPPKA, pemberdayaan ekonomi keluarga dipadukan dengan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan kembali bahan yang berpotensi mencemari lingkungan.(Gambar Ilustrasi)

PONOROGO – “Harga minyak naik lagi,” begitu celoteh Bu Sriani saat berbincang di Pasar Tamansari, Kecamatan Sambit. “Harga gula juga naik, lho, Dik Sri,” sahut Bu Miati. Sementara Mbah Yem menimpali santai, “Namanya ganti harga.”

Percakapan sederhana di pasar tersebut menggambarkan persoalan yang akrab dirasakan banyak keluarga. Ketika harga kebutuhan pokok terus berubah, masyarakat dituntut semakin cermat mengatur pengeluaran. Pertanyaannya, bagaimana menjaga ekonomi rumah tangga agar tetap kuat ketika biaya hidup meningkat, sementara pendapatan belum tentu ikut bertambah?

Salah satu jawabannya adalah membangun sumber penghasilan tambahan dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Upaya ini dapat dilakukan melalui kelompok kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA), sebuah wadah pemberdayaan ekonomi keluarga yang berpotensi mendorong kemandirian, kreativitas, dan produktivitas masyarakat.

UPPKA bukan sekadar kegiatan kelompok, melainkan peluang untuk mengubah keterampilan menjadi sumber penghasilan. Melalui kegiatan usaha mikro, anggota keluarga dapat mengembangkan produk maupun jasa yang memiliki nilai ekonomi, sekaligus belajar mengelola usaha dan keuangan rumah tangga secara lebih terencana.

Di Kabupaten Ponorogo, potensi untuk mengembangkan usaha berbasis keluarga terbuka lebar. Beragam produk olahan pangan khas daerah, kerajinan tangan, serta hasil pertanian dan peternakan dapat dikembangkan menjadi usaha yang bernilai tambah. Dengan pendampingan dan inovasi yang tepat, potensi tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya ekonomi keluarga yang lebih mandiri.

UPPKA Sambit Kembangkan Keterampilan dan Kreativitas

Komitmen pemberdayaan ekonomi keluarga tersebut terus diupayakan melalui kolaborasi Yayasan Batu Hijau dengan Balai Penyuluhan KB Kecamatan Sambit. Untuk kesekian kalinya, kedua pihak menyelenggarakan pelatihan bagi kader kelompok UPPKA di wilayah Kecamatan Sambit.

Jika pada pertemuan sebelumnya peserta mendapatkan pelatihan pembuatan keripik daun jambu dan kerupuk, kali ini kegiatan diarahkan pada pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk yang memiliki nilai guna, yakni sabun dan lilin.

Pelatihan yang berlangsung di Balai Desa Bangsalan ini menjadi contoh bahwa bahan yang selama ini dianggap tidak terpakai masih berpotensi dimanfaatkan melalui kreativitas dan pengetahuan yang tepat. Selain membuka wawasan mengenai pengolahan bahan bekas, kegiatan tersebut juga memperkenalkan peluang usaha sederhana yang dapat dikembangkan di lingkungan rumah tangga.

Yayasan Batu Hijau sendiri bergerak di bidang sosial, pemberdayaan, kolaborasi, serta kampanye kepedulian terhadap lingkungan. Melalui kegiatan bersama kelompok UPPKA, pemberdayaan ekonomi keluarga dipadukan dengan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan kembali bahan yang berpotensi mencemari lingkungan.

Sebanyak delapan kelompok UPPKA di Kecamatan Sambit mengikuti kegiatan tersebut. Mereka adalah UPPKA Rejeki Desa Ngadisanan, UPPKA Mangun Tani Makmur Desa Maguwan, UPPKA Bina Usaha Mandiri Desa Bedingin, UPPKA Sekarsari Desa Bulu, UPPKA Melati Desa Besuki, UPPKA Sekar Melati Desa Wilangan, UPPKA Kamboja Desa Bangsalan, serta UPPKA Dewi Kuning Desa Kemuning.

Keterlibatan delapan kelompok ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi keluarga membutuhkan ruang belajar bersama. Melalui pertemuan, pelatihan, dan pertukaran pengalaman, para anggota dapat saling menguatkan serta menemukan ide usaha yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan di wilayah masing-masing.

Kegiatan dibuka oleh Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Sambit, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Desa Bangsalan. Materi pelatihan disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Batu Hijau, Umi Hamamah.

Dari Minyak Jelantah Menjadi Peluang Ekonomi

Minyak jelantah yang sudah tidak layak digunakan untuk memasak kerap berakhir sebagai limbah rumah tangga. Padahal, apabila dikelola melalui proses yang benar dan aman, bahan tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menghasilkan produk baru.

Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun dan lilin. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas sekaligus membuka peluang pengembangan usaha skala rumah tangga.

Salah satu peserta, Sriati, mengungkapkan bahwa materi pelatihan yang diberikan sangat bermanfaat. Selain menambah pengetahuan dan keterampilan, kegiatan tersebut juga memberikan wawasan mengenai alternatif pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan rumah tangga.

Menurutnya, keterampilan yang diperoleh berpotensi membantu keluarga mengurangi pengeluaran untuk pembelian produk tertentu, sekaligus menjadi bekal apabila ingin mengembangkan usaha secara berkelompok.

Sementara itu, Umi Hamamah berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat memanfaatkan minyak jelantah secara lebih bertanggung jawab dan mengurangi pengeluaran keluarga. Lebih jauh, keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi.

Meski demikian, pembuatan sabun maupun lilin dari minyak jelantah tetap harus memperhatikan prosedur pengolahan, keselamatan kerja, serta kualitas produk. Minyak jelantah tidak boleh digunakan kembali untuk memasak, sedangkan produk hasil olahannya harus melalui proses yang sesuai dengan peruntukan dan standar keamanan sebelum dimanfaatkan atau dipasarkan.

Menguatkan Ekonomi Keluarga Dimulai dari Langkah Sederhana

Penguatan ekonomi keluarga tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Terkadang, langkah awal justru lahir dari kemauan untuk belajar, keberanian mencoba hal baru, dan kemampuan melihat peluang dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.

Melalui UPPKA, keluarga memiliki kesempatan untuk membangun usaha secara bertahap. Dimulai dengan mengenali potensi lokal, menentukan produk yang dibutuhkan masyarakat, menghitung biaya produksi, menjaga kualitas, hingga memperluas pemasaran melalui jejaring sosial maupun platform digital.

Namun, keberhasilan kelompok UPPKA tentu tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan. Pendampingan berkelanjutan, akses pemasaran, pengelolaan keuangan yang tertib, serta kerja sama antarkelompok juga menjadi faktor penting agar usaha dapat berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi anggotanya.

Ketika anggota kelompok mampu menghasilkan produk secara konsisten dan memasarkannya dengan baik, peluang untuk menambah pendapatan keluarga semakin terbuka. Pada saat yang sama, kegiatan produktif tersebut dapat memperkuat semangat gotong royong, meningkatkan keterampilan masyarakat, dan mendorong tumbuhnya ekonomi lokal.

Di tengah perubahan harga kebutuhan pokok, keluarga tidak harus selalu berada pada posisi sebagai pihak yang hanya menyesuaikan pengeluaran. Melalui kreativitas dan pemberdayaan, keluarga juga dapat mengambil peran aktif dalam membangun sumber pendapatan tambahan.

Karena itu, keberadaan UPPKA perlu terus didorong sebagai ruang belajar, berkarya, dan berusaha bagi masyarakat. Dukungan pemerintah, penyuluh KB, pemerintah desa, komunitas pemberdayaan, serta seluruh pihak terkait akan sangat berarti dalam memperluas manfaat program ini.

Mari tingkatkan keterampilan, manfaatkan potensi di sekitar kita, dan bangun kemandirian ekonomi mulai dari keluarga. Ayo bergabung dan aktif dalam kelompok UPPKA! Sebab, keluarga yang berdaya menjadi salah satu fondasi penting bagi masyarakat yang sejahtera.(Sw/Ny/Titian Sandhyati)


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar