🧿 BREAKING NEWS

Reog Disabilitas Hadirkan Tangis Haru di Penutupan Grebeg Suro 2026


Penampilan para penari reog remaja penyandang disabilitas binaan Polres Ponorogo bersama SMA Muhammadiyah Ponorogo

PONOROGO – Suasana Closing Ceremony Grebeg Suro 2026 di Alun-Alun Ponorogo, Senin (15/6/2026), berubah menjadi lautan haru saat kelompok Reog Disabilitas tampil di hadapan ribuan penonton dan tamu undangan. Penampilan para remaja penyandang disabilitas binaan Polres Ponorogo bersama SMA Muhammadiyah Ponorogo tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam rangkaian penutupan pesta rakyat tahunan Kabupaten Ponorogo.

Di tengah gemerlap panggung dan sorotan lampu malam, para pemain memasuki arena dengan penuh percaya diri. Langkah demi langkah yang mereka ayunkan seolah menjadi simbol perjuangan panjang untuk dapat berdiri dan berkarya di hadapan masyarakat luas. Iringan musik Reog yang mengalun menghidupkan suasana, sementara semangat para pemain memancarkan energi yang begitu kuat.

Tidak sedikit tamu undangan yang tampak terdiam menyaksikan penampilan tersebut. Beberapa di antaranya terlihat menyeka air mata, larut dalam suasana yang menyentuh hati. Ribuan pasang mata tertuju ke panggung, menyaksikan bagaimana keterbatasan tidak mampu menghalangi kecintaan mereka terhadap seni dan budaya warisan leluhur.

Setiap gerakan yang ditampilkan bukan hanya sebuah pertunjukan seni, melainkan kisah tentang keberanian, ketekunan, dan semangat yang tidak pernah padam. Tepuk tangan panjang berkali-kali menggema dari seluruh penjuru alun-alun, menjadi bentuk penghargaan atas usaha dan dedikasi yang telah mereka tunjukkan.

Keheningan sesaat yang menyelimuti penonton di beberapa bagian pertunjukan justru menggambarkan betapa dalam pesan yang disampaikan. Banyak yang tampak terharu melihat para remaja tersebut mampu tampil begitu percaya diri dan penuh semangat di tengah segala keterbatasan yang mereka miliki.

Malam itu, Reog Disabilitas tidak hanya memeriahkan penutupan Grebeg Suro 2026. Mereka menghadirkan pelajaran tentang arti perjuangan, kesetaraan, dan kekuatan tekad manusia. Penampilan mereka menjadi bukti bahwa semangat untuk melestarikan budaya tidak mengenal batas, tidak dibatasi oleh kondisi fisik, dan tidak pernah surut oleh keadaan.

Saat pertunjukan berakhir, tepuk tangan bergemuruh memenuhi Alun-Alun Ponorogo. Banyak penonton berdiri memberikan penghormatan. Wajah-wajah haru tampak di antara kerumunan, menandai bahwa malam itu bukan sekadar penutupan sebuah festival, melainkan sebuah perayaan kemanusiaan yang menyentuh relung hati setiap orang yang hadir.(Sw/Ny)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar