🧿 BREAKING NEWS

Buceng Porak Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026 Hadirkan Lima Buceng Hasil Bumi, Pemotongan Tumpeng Simbol Syukur dan Pengharapan

 

pemotongan tumpeng oleh Plt Bupati Ponorogo yang didampingi Ketua Yayasan Bantarangin, H. Amin. Potongan tumpeng pertama kemudian diserahkan kepada Camat Kauman, Toni Khristiawan, S.STP., M.Si.

Ponorogo, Selasa (14/7/2026) – Tradisi Buceng Porak menjadi salah satu puncak kemeriahan Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026 yang digelar Selasa (14/7/2026). Kegiatan dimulai pukul 14.00 WIB dengan parade drumband yang diikuti sekolah-sekolah dari wilayah Kecamatan Kauman, mulai dari jenjang PG/TK, SD/MI, yang menyemarakkan jalannya perayaan dengan penampilan atraktif di sepanjang rute kirab menuju lokasi acara.

Setelah parade drumband, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi Buceng Porak, sebuah tradisi sarat makna sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus bentuk pelestarian budaya warisan leluhur yang terus dijaga masyarakat Bantarangin.

Sebanyak lima buceng berukuran besar yang dihiasi aneka hasil bumi, seperti padi, jagung, sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya, menjadi pusat perhatian masyarakat. Lima buceng tersebut merupakan persembahan dari Plt Bupati Ponorogo, Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo, Camat Kauman, serta Kepala Desa se-Kecamatan Kauman, sebagai simbol sinergi dan kebersamaan dalam menjaga tradisi serta mendukung pembangunan berbasis budaya.

Prosesi inti ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Plt Bupati Ponorogo yang didampingi Ketua Yayasan Bantarangin, H. Amin. Potongan tumpeng pertama kemudian diserahkan kepada Camat Kauman, Toni Khristiawan, S.STP., M.Si., sebagai lambang keharmonisan antara pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, yayasan, dan masyarakat dalam melestarikan budaya Bantarangin.

Dalam sambutannya, Plt Bupati Ponorogo menyampaikan bahwa Buceng Porak bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah serta momentum mempererat persatuan masyarakat.

"Tradisi Buceng Porak merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur yang terkandung di dalamnya harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi muda agar tetap menjadi bagian dari identitas Ponorogo," ujarnya.

Prosesi Budhalan Buceng Dari Kecamatan Kauman menuju Monumen Bantarangin


Buceng Camat Kauman

Sementara itu, Camat Kauman, Toni Khristiawan, mengapresiasi partisipasi seluruh sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat yang telah berkolaborasi menyukseskan rangkaian Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026.

"Kebersamaan seluruh elemen masyarakat, mulai dari dunia pendidikan, pemerintah desa, hingga masyarakat umum, menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelestarian budaya Bantarangin. Semoga semangat ini terus terpelihara untuk generasi mendatang," katanya.

Buceng Porak Kepala Desa se-Kecamatan Kauman

Ketua Yayasan Bantarangin, H. Amin, menambahkan bahwa Buceng Porak merupakan agenda budaya yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya karena menjadi simbol kemakmuran, persaudaraan, dan harapan akan keberkahan bagi seluruh warga.

Usai prosesi pemotongan tumpeng dan doa bersama, masyarakat dengan penuh antusias mengikuti tradisi porak buceng, yakni memperebutkan isi lima buceng hasil bumi yang diyakini membawa berkah dan menjadi simbol harapan akan rezeki yang melimpah.

Melalui kemeriahan parade drumband pelajar dan prosesi Buceng Porak, Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026 kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat semangat persatuan, gotong royong, dan kecintaan masyarakat terhadap tradisi leluhur di Bumi Reog.(Sw/Ny)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar