🧿 BREAKING NEWS

Tak Mau Gaptek, 20 KIM Desa di Ponorogo Diajak Ngulik AI

Kepala Dinas Kominfo dan Statistik Ponorogo, drh. H. Sapto Djatmiko Tjipto Rahardjo, M.M.yang membuka acara ini menyebut, KIM harus berubah dari sekadar tukang sebar info menjadi kurator informasi.

PONOROGO - Bukan lagi zaman KIM hanya bermodal HP dan grup WhatsApp. Senin (28/9/2026), suasana Aula Dinas Kominfo Ponorogo di Jl. Ir. Juanda No. 198 Tonatan mendadak lebih hidup. 20 pegiat Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) dari 7 kecamatan dikumpulkan untuk satu misi: belajar Artificial Intelligence (AI).

Mereka datang dari ujung ke ujung. Ada KIM Ngunut dan Pondok dari Babadan, Biting dan Kapuran dari Badegan, Jalen dari Balong, Tegalsari dari Jetis, Plosojenar dan Ngrandu dari Kauman, Gajah dari Sambit, Ronowijayan dari Siman, hingga rombongan terbanyak dari Slahung: Caluk, Kambeng, Nailan, Mojopitu, Wates, Slahung, Menggare, Galak, Truneng, plus Kalimalang dari Sukorejo.

Kepala Dinas Kominfo dan Statistik Ponorogo, drh. H. Sapto Djatmiko Tjipto Rahardjo, M.M.yang membuka acara ini menyebut, KIM harus berubah dari sekadar tukang sebar info menjadi kurator informasi.

"Kalau dulu KIM kita minta untuk melek informasi, sekarang kita paksa untuk melek teknologi. Karena kalau tidak, kita yang akan ditinggal. KIM harus jadi mitra pemerintah untuk menyebarluaskan informasi, mengangkat literasi digital, dan menjaga keterbukaan informasi publik sampai ke dusun," katanya.

Menurut Sapto, AI bukan monster yang akan mengambil alih tugas KIM. Justru sebaliknya, AI adalah asisten pribadi gratis.

"Jangan bayangkan AI itu rumit. Anggap saja asisten. Mau bikin berita desa 5 menit jadi? Bisa. Mau bikin poster UMKM yang estetik tanpa harus jago desain? Bisa. Mau cek ini hoaks atau bukan? Juga bisa. Tapi ingat, otak dan hati tetap punya panjenengan. Etika, akurasi, dan kearifan lokal Ponorogo jangan sampai hilang," tegasnya.

Ia berharap, 20 KIM yang ikut hari ini bisa menjadi ujung tombak, membuka mata melihat kenyataan melalui keterbukaan, dukun teknologi harus ada di genggaman, semakin canggih semakin luas wawasannya, dunia maya berbasis AI harus dimanfaatkan dengan bijak, untuk menciptakan kondusifitas lingkungan, dan kiblat dari segala macam hoaks dengan garapan yang menarik

"Harapan saya, pulang dari sini KIM bukan lagi hanya penonton di era digital, tapi jadi pemain. Jadi produsen konten positif yang membuat desa panjenengan viral karena prestasinya, bukan karena hoaksnya," pungkasnya.(Sw/Ny)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar